--> Skip to main content
Light
Dark
System

Masih Perlukah Script Lazyload Dipasang di Kode Template Blog?

Masih Perlukah Script Lazyload Dipasang di Kode Template Blog?

Script lazyload dulu populer, tapi di 2026 browser sudah punya fitur native. Apakah masih perlu pasang script tambahan di template blog?

Daftar Isi

Kenapa berkali-kali saya mengganti template blog dalam beberapa bulan terakhir ini? Yaitu agar blog tetap dengan performa terbaik, tepat fast loading dan tetap enak dilihat... Seperti sekarang ini. Sealin itu saya tidak henti-henti belajar dan update tentang coding-coding sederhana untuk Blogger ini seperti kode CSS, HTML dan JavaScript. Salah satunya yang mengalami perubahan besar adalah penggunaan script lazyload.

Beberapa tahun lalu, memasang script lazyload di template blog terasa seperti keharusan. Kamu pasti pernah dengar atau bahkan lakukan sendiri, menambahkan kode JavaScript supaya gambar tidak langsung dimuat semua begitu halaman terbuka. Tujuannya sederhana yaitu mempercepat loading awal halaman supaya pengunjung tidak kabur. Dan kerja Script lazyload ini bekerja dengan menunda pemuatan gambar yang berada di bawah fold sampai pengguna scroll halaman tersebut. Di masa itu, browser belum punya dukungan bawaan yang kuat, jadi script tambahan jadi solusi paling mudah.

Masih Perlukah Script Lazyload Dipasang di Kode Template Blog?

Sekarang di tahun 2026, situasinya sudah berubah cukup signifikan. Browser modern seperti Chrome, Firefox, Edge, dan Safari sudah mendukung fitur native lazy loading melalui atribut HTML sederhana yaitu loading="lazy".

Artinya, kamu tidak lagi wajib bergantung pada script eksternal yang bisa menambah beban JavaScript di halaman blog itu sendiri. Banyak blogger dan pemilik website mulai bertanya-tanya, apakah masih ada gunanya memasang script lazyload khusus di kode template blog mereka? Jawabannya tidak selalu , tapi trennya jelas mengarah ke pendekatan yang lebih ringan dan native.

Script lazyload dulunya memang membantu mengurangi bandwidth dan memperbaiki metrik performa seperti Time to Interactive. Tapi sekarang, dengan dukungan browser yang semakin matang, menambahkan script tambahan justru bisa jadi overkill. Ia bisa menimbulkan masalah baru seperti konflik dengan plugin lain, penundaan eksekusi, atau bahkan membuat halaman terasa lebih berat di perangkat mobile. Saya sendiri sering melihat template blog yang sudah cukup cepat malah jadi lambat gara-gara script lazyload yang tidak diperlukan lagi.

Sebagai contoh blog Digital Poin ini, blog ini menggunakan template Kompi Flexible mulai dari awal blog ini dibuat dan didalam kode template blog ini ada kode script lazyload untuk halaman depan (homepage) dan halaman artikel. Karena dalam beberapa tahun terakhir ini sudah tidak ada update template Kompi Felxible ini, beberapa kode script sudah mengalami error, sehingga mau tidak mau saya coba merombak penggunana kode javascript ini.

Kode script lazyload untuk halaman depan (homepage) dan halaman artikel akhirnya tak jadikan satu script karena secara logikan penggunaan 2 kode tersebut sangat mubadzir dan boros sehingga mempengaruhi performa blog juga. Namun lama kelamaan saya ubah total kode scritnya yaitu dengan menghilangkan kode script lazyloadnya. Kenapa? Karena Blogger sudah memiliki fitur 3 fitur baru untuk optimasi gambar blog yaitu Lightbox gambar, Gambar pemuatan lambat, dan Penyajian gambar WebP.

3 fitur ini saya kira sudah cukup untuk membantu agar loading blog tetap kenceng dan performa tetap terjaga. Dan hasilnya ya benar, hampir semua gambar artikel di blog sangat mudah diakses. Jadi saya mikirnya, berarti script-script ini sudah mulai tidak begitu difungsikan lagi.

Seiring perkembangan teknologi dan kemudahan akses, ternyata script-script lama dan termasuk script lazyload muali banyak ditinggalkan dan tidak digunakan lagi saat ini.

Apa Itu Lazy Loading dan Mengapa Dulu Sangat Dibutuhkan

Lazy loading adalah teknik yang menunda pemuatan resource non-kritis, terutama gambar dan video, sampai benar-benar dibutuhkan oleh pengguna. Bayangkan jika ada sebuah artikel blog panjang dengan dua puluh gambar. Tanpa lazy loading, browser akan mencoba memuat semua gambar sekaligus saat halaman pertama kali terbuka. Hasilnya? Loading awal jadi lambat, terutama di koneksi internet yang tidak stabil atau di ponsel dengan data terbatas.

Dulu, developer sering menggunakan library JavaScript seperti lazysizes atau Intersection Observer API manual untuk mencapai efek ini. Script lazyload dipasang di bagian head atau footer template, lalu gambar-gambar diberi class khusus seperti "lazy" dan data-src sebagai placeholder. Saat pengguna scroll, script akan mengganti data-src menjadi src yang sebenarnya. Cara ini cukup efektif pada zamannya, tapi memerlukan JavaScript ekstra yang harus dieksekusi di setiap halaman.

Masalahnya, setiap script tambahan berarti lebih banyak kode yang harus diunduh, diurai, dan dieksekusi oleh browser. Di blog dengan traffic tinggi, hal ini bisa menumpuk dan memengaruhi Core Web Vitals, khususnya Largest Contentful Paint (LCP) dan Interaction to Next Paint (INP). Banyak kasus di mana script lazyload malah membuat skor performa turun karena JavaScript blocking.

Perkembangan Native Lazy Loading di Browser Modern

Sejak sekitar tahun 2019-2020, browser mulai memperkenalkan dukungan native untuk lazy loading. Cukup dengan menambahkan atribut loading="lazy" pada tag img atau iframe, browser akan otomatis menangani penundaan pemuatan. Fitur ini sudah stabil di hampir semua browser utama pada 2026. Kamu tidak perlu script tambahan lagi untuk kasus standar.

Keunggulan native lazy loading ini sangat jelas. Pertama, tidak ada JavaScript eksternal yang harus dijalankan. Browser melakukan semuanya di level engine, sehingga lebih efisien dan hemat resource. Kedua, implementasinya sangat sederhana yaitu cukup ubah tag gambar menjadi <img src="gambar.jpg" loading="lazy" alt="deskripsi">. Ketiga, kompatibilitasnya bagus, dan fallback untuk browser lama juga mudah dilakukan.

Banyak platform blogging seperti WordPress sudah otomatis menambahkan atribut ini sejak versi 5.5. Untuk template Blogger atau custom HTML, kamu tinggal edit manual di kode. Hasilnya, halaman blog jadi lebih ringan karena tidak ada overhead dari script pihak ketiga. Saya sering merekomendasikan pendekatan ini kepada teman-teman yang mengelola blog karena langsung terasa bedanya di PageSpeed Insights.

Blog Digital Poin ini sudah tidak menggunakan class="lazyload" atau sejenisnya tapi sudah menggunakan native lazy loading. Jika ingin mengcek silahkan lihat di kode view-source blog ini, sudah tidak ada kode lazyload dan penggunaan kode template masih menggunakan kode template Kompi Flexible.

Mengapa Script Lazyload Tambahan Bisa Menjadi Masalah di 2026

Meski dulu berguna, script lazyload custom sekarang sering kali tidak perlu. Berikut beberapa alasan utama:

  • Menambah beban JavaScript: Setiap script yang kamu pasang harus di-download dan di-parse. Ini bisa menambah waktu eksekusi, terutama kalau scriptnya tidak dioptimasi dengan baik.
  • Potensi konflik: Script lazyload bisa bentrok dengan plugin caching, CDN, atau fitur native browser itu sendiri. Saya pernah melihat kasus di mana dua mekanisme lazy loading berjalan bersamaan dan justru membuat gambar tidak muncul tepat waktu.
  • Pengaruh terhadap Core Web Vitals: Google sangat memperhatikan LCP. Kalau script lazyload memengaruhi gambar di atas fold, skor bisa anjlok drastis. Native lazy loading lebih aman karena browser tahu persis kapan harus memuat.
  • Maintenance yang merepotkan: Kamu harus update script secara berkala supaya tetap kompatibel dengan browser baru. Dengan native, kamu tinggal andalkan browser yang selalu ter-update otomatis.

Intinya, kalau blog kamu sudah menggunakan platform modern atau template yang ringan, memasang script lazyload tambahan sering kali hanya menambah kerumitan tanpa manfaat berarti.

Kenapa Sebenarnya Tidak Perlu Menggunakan Script Lazyload Lagi

Saya yakin banyak dari kamu yang masih ragu. "Kalau tidak pakai script, bagaimana gambar di bawah tidak membebani loading awal?" Jawabannya ada di native support yang sudah sangat matang. Browser sekarang pintar mendeteksi viewport dan hanya memuat gambar yang mendekati area layar pengguna. Threshold-nya juga diatur secara optimal oleh engine browser, bukan oleh script custom yang kadang kurang akurat.

Lagi pula, menambahkan script lazyload berarti kamu menambah satu titik kegagalan lagi di website. Kalau JavaScript gagal load karena alasan apapun (ad blocker, koneksi buruk, atau error di kode), maka lazy loading pun tidak jalan. Dengan native, semuanya ditangani langsung oleh browser tanpa ketergantungan pada JS.

Di sisi SEO, Googlebot juga sudah sangat baik memahami native lazy loading. Tidak ada risiko konten tersembunyi atau tidak terindeks selama kamu tetap memberikan alt text yang baik dan struktur HTML yang benar. Bahkan, situs yang terlalu bergantung pada JS heavy lazy loading kadang justru kurang ramah terhadap crawler.

Optimasi Gambar yang Seharusnya Kamu Lakukan Tanpa Bergantung Script Lazyload

Daripada fokus pada script lazyload, lebih baik kamu arahkan energi ke optimasi gambar secara menyeluruh. Ini jauh lebih impactful untuk kecepatan blog dan pengalaman pengguna. Berikut langkah-langkah yang saya sarankan:

  1. Pilih format gambar modern: Gunakan WebP atau AVIF sebagai pengganti JPG/PNG. Kedua format ini bisa mengurangi ukuran file hingga 50-70% tanpa kehilangan kualitas yang berarti. Tools seperti Squoosh atau ImageOptim sangat membantu.
  2. Kompresi yang tepat: Jangan upload gambar mentah dari kamera. Kompres dulu sampai ukuran file di bawah 100-200 KB untuk gambar konten biasa. Pastikan kualitas visual tetap terjaga.
  3. Gunakan srcset dan sizes: Ini memungkinkan browser memilih ukuran gambar yang paling sesuai dengan layar pengguna. Contoh: <img src="small.jpg" srcset="medium.jpg 800w, large.jpg 1200w" sizes="(max-width: 600px) 100vw, 50vw" loading="lazy">.
  4. Tentukan width dan height eksplisit: Selalu tambahkan atribut width dan height di tag img. Ini mencegah Cumulative Layout Shift (CLS) yang bisa merusak skor Core Web Vitals.
  5. Bedakan gambar di atas dan bawah fold: Untuk gambar hero atau featured image di atas fold, gunakan loading="eager" atau biarkan default (tanpa lazy). Hanya gambar di bawah yang pakai loading="lazy". Ini sangat penting agar LCP tidak terganggu.

Selain itu, manfaatkan CDN gambar yang otomatis mengoptimasi dan menyajikan format terbaik. Banyak hosting atau service seperti Cloudinary, Imgix, atau bahkan fitur built-in di platform blogging sudah mendukung ini. Dengan kombinasi ini, kecepatan halaman blog kamu bisa meningkat drastis tanpa perlu script lazyload sama sekali.

Jangan lupa juga soal alt text yang deskriptif dan nama file gambar yang mengandung keyword relevan. Ini membantu SEO image search sekaligus membuat website lebih accessible.

Praktik Terbaik untuk Template Blog di 2026

Untuk template Blogger atau custom theme, saya sarankan membersihkan kode dari script lama yang tidak perlu. Cek satu per satu bagian yang memuat gambar, tambahkan atribut loading="lazy" di tempat yang tepat, dan tes dengan PageSpeed Insights serta Lighthouse.

Kalau kamu pakai WordPress, cukup pastikan versi terbaru dan biarkan core menangani lazy loading otomatis. Hindari plugin lazy load tambahan kecuali kamu punya kebutuhan khusus seperti lazy loading background image atau video yang kompleks.

Testing adalah kunci. Buka website kamu di perangkat mobile dengan koneksi 3G simulasi, lalu lihat apakah gambar muncul dengan lancar tanpa delay yang mengganggu. Kalau masih ada masalah, biasanya bukan karena kurangnya script, melainkan karena gambar belum dioptimasi dengan benar.

Ingat, tujuan utama optimasi bukan sekadar skor hijau di tools, tapi pengalaman nyata pengunjung. Blog yang cepat dimuat membuat orang betah membaca lebih lama, meningkatkan waktu tinggal, dan pada akhirnya mendukung performa SEO jangka panjang.

Script lazyload memang pernah jadi solusi andalan, tapi sekarang waktunya beralih ke pendekatan yang lebih modern dan ringan. Dengan memanfaatkan fitur native browser dan fokus pada optimasi gambar menyeluruh, kamu bisa membuat template blog yang lebih cepat, lebih bersih, dan lebih mudah dikelola. Coba terapkan perubahan ini di blog kamu, lalu bandingkan hasilnya sebelum dan sesudah. Saya yakin kamu akan terkejut dengan perbedaannya.

Roni
Penulis:
Roni
Janganlah berkomentar tentang hal yang belum kamu ketahui

Komentar

Syarat Ketentuan

Setiap komentar yang Anda tulis tidak bisa dihapus dan di edit, jadi berkomentarlah secara bijak karena setiap komentar yang Anda tulis menjadi tanggungjawab Anda sendiri.