Kerja WFA di Bali? Cek Biaya Hidup Digital Nomad Ini

Kerja WFA di Bali? Cek Biaya Hidup Digital Nomad Ini

Pelajari rincian biaya hidup digital nomad di Bali, termasuk akomodasi, coworking space, makanan, dan tips mengelola keuangan agar tetap hemat

Daftar isi
Baca Juga

Siapa yang tidak tergiur bekerja ditemani debur ombak dan senja di Bali? Bekerja dengan latar belakang pantai memang menjadi impian banyak orang belakangan ini. Namun, sebelum kamu buru-buru mengepak koper dan pindah, ada baiknya kamu memahami rincian biaya hidup digital nomad dengan matang. Tujuannya sederhana, agar arus kas tetap lancar dan dompet tidak "boncos" di tengah jalan.

Kerja WFA di Bali? Cek Biaya Hidup Digital Nomad Ini

Gaya hidup Work From Anywhere (WFA) sering kali terlihat sangat indah di media sosial, tapi tentu ada harga yang harus dibayar untuk kenyamanan tersebut. Berikut adalah gambaran realita di lapangan serta tips mengatur keuangan bagi kamu yang ingin menjajal gaya hidup ini di Pulau Dewata.

Realita Kerja dari Pantai: Ekspektasi vs Biaya Hidup Nyata

Banyak dari kita membayangkan seorang digital nomad bekerja santai dengan laptop di atas bean bag pinggir pantai setiap hari. Kenyataannya? Bekerja langsung di bawah terik matahari dengan angin laut yang kencang sering kali justru mengganggu produktivitas. Layar laptop menjadi silau dan suhu panas bisa membuatmu cepat lelah.

Akhirnya, besar kemungkinan kamu akan lebih sering bekerja di kafe ber-AC atau di dalam vila yang nyaman. Di sinilah biaya konsumsi harian mulai membengkak. Sekali duduk bekerja di kafe hits area populer, kamu bisa menghabiskan Rp100.000 hingga Rp150.000 untuk kopi dan makanan.

Agar biaya hidup digital nomad tetap terkendali, kamu perlu strategi cerdas. Cobalah mengkombinasikan gaya hidupmu dengan makan di warung lokal seperti warteg atau nasi campur. Selain rasanya otentik, harganya pun jauh lebih bersahabat, berkisar antara Rp20.000 hingga Rp30.000 per porsi.

Pos Pengeluaran Ekstra: Sewa Coworking Space & Paket Data

Tantangan terbesar saat WFA di Bali biasanya adalah stabilitas internet. Mengandalkan Wi-Fi di kos atau guesthouse sering kali berisiko, terutama saat kamu harus melakukan video conference penting. Koneksi yang putus-nyambung tentu bisa menghambat profesionalitas di mata klien.

Maka dari itu, kamu perlu mengalokasikan dana khusus demi ketenangan bekerja, antara lain:

  • Coworking Space: Ini adalah investasi kenyamanan. Harga sewa hot desk bulanan di area populer biasanya berkisar antara Rp1.500.000 hingga Rp3.000.000. Dengan harga ini, kamu mendapatkan jaminan internet kencang dan kursi ergonomis yang nyaman untuk punggung.
  • Paket Data Cadangan: Jangan pernah hanya bergantung pada satu sumber internet. Kamu wajib memiliki kuota data besar sebagai backup jika sewaktu-waktu Wi-Fi utama mati lampu atau gangguan. Siapkan bujet sekitar Rp150.000 hingga Rp300.000 per bulan untuk pos ini.

Strategi Sewa Akomodasi Bulanan vs Harian

Tempat tinggal akan menjadi komponen terbesar dalam pengeluaran bulanan. Kesalahan yang sering dilakukan pemula adalah menyewa tempat secara harian atau mingguan. Jika dihitung total, biayanya akan jauh lebih mahal.

Saran terbaik adalah mencari sewa langsung secara bulanan untuk mendapatkan harga terbaik. Kos eksklusif dengan fasilitas lengkap seperti kolam renang bisa kamu dapatkan mulai dari Rp3.500.000 hingga Rp5.000.000 per bulan.

Hindari Tourist Trap Area

Ingin menekan bujet lebih dalam? Hindari tinggal tepat di jantung area wisata padat seperti Seminyak atau pusat Canggu. Cobalah melirik area penyangga seperti Kerobokan, Pererenan sisi utara, atau pinggiran Ubud. Kawasan ini tidak hanya menawarkan harga yang lebih miring, tetapi juga suasana yang lebih tenang dengan fasilitas yang tetap nyaman.

Dana Darurat Wajib untuk Freelancer/Remote Worker

Sebagai digital nomad, kita harus sadar bahwa pendapatan mungkin tidak selalu stabil setiap bulannya. Risiko proyek berhenti mendadak atau klien yang terlambat membayar tagihan adalah hal yang lumrah terjadi.

Karena itulah, memiliki dana darurat bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban. Idealnya, kamu harus memiliki dana darurat setara 6 hingga 12 kali pengeluaran bulanan. Anggaplah dana ini sebagai jaring pengaman atau sekoci penyelamat jika terjadi situasi tak terduga selama kamu merantau di Bali.

Kelola Keuangan Jarak Jauh dengan Fitur Investasi aplikasi OCTO

Hidup berpindah-pindah bukan alasan untuk melupakan masa depan finansial. Justru karena gaya hidupmu fleksibel, kamu memerlukan instrumen keuangan yang juga fleksibel dan bisa diakses dari mana saja.

Kamu bisa memanfaatkan fitur investasi reksa dana di aplikasi OCTO dari CIMB Niaga. Aplikasi ini sangat ramah bagi pemula dan memudahkan kamu untuk mulai berinvestasi dengan modal yang sangat terjangkau, yaitu mulai dari Rp10.000 saja. Selain itu, reksa dana juga dikenal likuid atau mudah dicairkan saat kamu membutuhkan dana mendesak.

Pantau Portofolio dari Mana Saja

Kenyamanan adalah kunci. Dengan aplikasi OCTO, kamu tidak perlu repot datang ke kantor cabang bank. Semua aktivitas investasi bisa kamu lakukan dalam genggaman. Mulai dari pembelian (subscription), penjualan (redemption), hingga memantau kinerja portofolio bisa dilakukan langsung dari smartphone. Jadi, kamu tetap bisa memantau asetmu tumbuh bahkan saat sedang bersantai menikmati matahari terbenam di pantai.

Kesimpulan

Menjadi digital nomad di Bali memang menawarkan kebebasan dan pengalaman hidup yang luar biasa. Namun, kebebasan ini harus dibarengi dengan perencanaan keuangan yang matang dan disiplin. Mulai dari menghitung biaya akomodasi, menyisihkan dana untuk coworking space, hingga disiplin berinvestasi adalah kunci agar kamu bisa bertahan lama menjalani gaya hidup impian ini tanpa rasa cemas.

Siap menjalani hidup WFA impianmu dengan tenang? Pastikan keuanganmu tetap tumbuh dengan mulai investasi reksa dana di aplikasi OCTO sekarang juga. Download aplikasinya dan mulai investasi pertamamu hari ini!